
Perkembangan
kebudayaan pada masa Bani Ummayah di Andalusia
Bani
Umayyah di Andalusia adalah kekhalifahan Islam yang pernah berkuasa di
Semenanjung Iberia dalam rentang waktu antara abad ke-8 sampai abad ke-12. Ada
2 faktor utama yang diidentifikasi menjadi sebab masuknya Islam di Andalusia.
Pertama, faktor internal, yakni kemauan kuat para penguasa Islam untuk
mengembangkan dan membebaskan menjadi wilayah Islam. Andalusia atau Semenanjung
Iberia (Spanyol dan Portugal termasuk selatan Perancis sekarang) mulai
ditaklukan oleh umat Islam pada masa khalifah Al-Walid bin Abdul Malik (705-715
M). Dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat
dikatakan paling berjasa yaitu Tharif bin Malik, Tariq bin Ziyad, dan Musa bin
Nushair. Kemenangan pertama yang dicapai oleh Tariq bin Ziyad menjadi jalan
untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa bin Nushair
merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud
membantu perjuangan tersebut. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat
menyeberangi selat itu, dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat
ditaklukkannya. Setelah Musa bin Nushair berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona,
Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Goth lainnya, Theodomir
di Orihuela, ia bergabung dengan Tariq bin Ziyad di Toledo. Selanjutnya,
keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian
utaranya, mulai dari Zaragoza sampai Navarre.
Artikel/Jurnal: http://moraref.kemenag.go.id/documents/article/97874782241958069
Kedua,
faktor eksternal, yakni suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol
sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial,
politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara
politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa
negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran
terhadap aliran agama yang dianut penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi
terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan
bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen,
yang tidak bersedia disiksa dan dibunuh secara brutal.
Perpecahan
politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol,
ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal, sewaktu Spanyol masih berada
di bawah pemerintahan Romawi (Byzantine), berkat kesuburan tanahnya, pertanian
maju pesat. Demikian juga pertambangan, industri dan perdagangan karena
didukung oleh sarana transportasi yang baik. Akan tetapi, setelah Spanyol
berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan
masyarakat menurun. Hektaran tanah dibiarkan terlantar tanpa digarap, beberapa
pabrik ditutup, dan antara satu daerah dan daerah lain sulit dilalui akibat
jalan-jalan tidak mendapat perawatan.
Sejarah
panjang umat Islam di Spanyol terbagi pada enam periode, yaitu:
1. Periode
Pertama (711 -755 M)
Spanyol
di bawah pemerintahan Wali yang diangkat Khalifah di Damaskus. Pada masa ini
masih terdapat gangguan dari dalam, antara lain antar elit penguasa akibat
perbedaan etnis dan golongan. Antara Khalifah di Damaskus dan Gubernur Afrika
Utara di Kairawan saling mengklaim paling berhak menguasai Spanyol, hingga
terjadi pergantian Gubernur sebanyak 30 kali dalam waktu singkat. Perbedaan
etnis antara suku Barbar dan Arab menimbulkan konflik politik sehingga tidak
ditemukan figur yang tangguh. Gangguan dari luar datang dari sisa musuh-musuh
Islam yang terus memperkuat diri dan tidak pernah tunduk pada pemerintahan
Islam. Gangguan ini menyebabkan belum terwujudnya peradaban dan periode ini
berakhir dengan datangnya Abdurrahman al-Dakhil tahun 138 H/755 M.
2. Periode
Kedua (755-912 M)
Spanyol
di bawah pemerintahan Amir namun tidak tunduk pada pusat pemerintahan Islam
yang saat itu dipegang Khilafah Bani Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama
Abdurrahman I (ad-Dakhil) keturunan Bani Umayyah yang lolos dari kejaran Bani
Abbasiyah. Penguasa Spanyol periode ini: 1) Abdurrahman al-Dakhil, berhasil
mendirikan masjid di Cordova dan sekolah-sekolah. 2) Hisyam I, berhasil
menegakkan hukum Islam. 3) Hakam I, sebagai pembaharu bidang militer. 4)
Abdurrahman al-Ausath, penguasa yang cinta ilmu. 5) Muhammad bin Abdurrahman 6)
Munzir bin Muhammad 7) Abdullah bin Muhammad
Pada
abad ke-9, stabilitas negara terganggu akibat gerakan Martyrdom Kristen fanatik
yang mencari kesyahidan. Namun pihak Gereja tidak mendukung gerakan itu karena
pemerintah Islam mengembangkan kebebasan beragama. Pemerintah menyediakan
peradilan hukum khusus Kristen dan tidak dihalangi untuk bekerja sebagai
pegawai pada instansi militer. Gangguan juga timbul akibat pemberontak di
Toledo, percobaan revolusi yang dipimpin Hafshun yang berpusat di pegunungan
dekat Malaga, serta perselisihan orang Barbar dan Arab.
Artikel/Jurnal:
http://moraref.kemenag.go.id/documents/article/98077985952813342
3. Periode
Ketiga (912-1013 M)
Dimulai
oleh Abdurrahman an-Nashir, Spanyol di bawah pemerintahan bergelar Khalifah
(mulai tahun 929 M). Bermula dari berita terbunuhnya Khalifah al-Muqtadir oleh
pengawalnya sendiri, menurutnya ini saat yang tepat untuk memakai gelar
Khalifah setelah 150 tahun lebih hilang dari kekuasaan Bani Umayyah. Khalifah
yang memerintah pada periode ini antara lain:
a. Abdurrahman
al-Nashir (912-961 M)
Abdur
Rahman menggantikan kedudukan ayahnya pada usia 21 tahun. Penobatannya disambut
dan diterima segenap kalangan. Pada tahun 301 H/913 M, Abdur Rahman
mengumpulkan pasukan militer yang sangat besar. Pihak perusuh dan pihak musuh
gentar dengan kekuatan militer Abdur Rahman III. Dengan demikian tanpa
perlawanan ia menaklukkan kota-kota besar di belahan utara Spanyol, kemudian
Saville. Suku Berber dan umat Kristen Spanyol yang selama ini menjadi
perintang, tunduk kepada Abdur Rahman
III. Hanya masyarakat Toledo yang berusaha melawan sang Sultan, namun segera
dapat ditundukkan. Selanjutnya Abdur Rahman mengerahkan pasukannya ke belahan
utara Spanyol untuk menundukkan umat Kristen wilayah ini yang senantiasa
berusaha menghancurkan kekuatan Muslim.
Dua
tahun dari masa penobatan Abdur Rahman III, Ordano II, kepala suku Leon, datang
menyerbu beberapa wilayah lslam. Pada saat itu Abdur Rahman sedang terlibat
perselisihan dengan Khalifah Fatimiyah di Mesir. Ahmad lbn Abu Abda ditunjuk
memimpin pasukan untuk menghadapi pasukan Ordano II. Setelah terdesak, Ordano
ll kemudian bersekutu dengan Sancho, kepala suku Navarre. Suku Leon dan suku
Navarre dihancurkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Abdur Rahman sendiri,
bersamaan dengan terbunuhnya Ordano ll dan Sancho. Penguasa Muslim Spanyol
selama ini berkedudukan sebagai Amir atau Sultan. Abdur Rahman merupakan orang
pertama yang mengklaim kedudukannya sebagai khalifah dengan gelar an-Nasir Li
Dinillah (penegak agama Allah), setelah ia berhasil dalam perjuangan menumpas
pemberontakan Kristen suku Leon dan Navarre serta mencapai puncak kemajuan
menyaingi kemajuan Daulah Bani Abbasiyah di Baghdad. Dengan demikian pada masa
ini terdapat dua khalifah Sunni di dunia Islam: Khalifah Abbasiyah di Bagdad
dan Khalifah Umayyah dispanyol, dan seorang khalifah Syi’ah Fatimiyah Afrika
Utara.
Artikel/Jurnal:
http://moraref.kemenag.go.id/documents/article/98077985952787071
b. Hakam
II (961-976 M)
Hakam
II menggantikan kedudukan ayahnya, Abdur Rahman.Masyarakat menikmati
kesejahteraan dan kemakmuran karena pembangunan yang berlangsung cepat. Pada
masa ini, pimpinan suku Navarre, yang semula telah mengakui otoritas
pemerintahan Islam semasa Abdur Rahman III, berusaha melepaskan diri dengan
anggapan bahwa Hakam yang terkenal suka perdamaian dan terpelajar tersebut
tidak akan menuntut ketentuan dalam perjanjian sebelumnya, dan seandainya dia
memilih jalan perang niscaya kekuatan Hakam tidak sekuat kecakapan militer
ayahnya. Tapi ternyata bahwa Hakam membuktikan dirinya tidak hanya sebagai
orang terpelajar melainkan juga pemimpin militer yang cakap. Sancho, pimpinan
Kristen suku Leo, dan pimpinan Kristen lainnya ditundukkan ketika melancarkan
pemberontakan. Ia juga mengerahkan pasukannya yang dipimpin Ghalib ke Atrika
untuk menekan kekuatan Fatimiyah. Ghalib mencapai sukses menegakkan kekuasaan
Umayyah Spanyol di Afrika Barat. Suku Berber di Maghrawa, Mikansa, dan Zenate
mengakui kepemimpinan Hakam.
Setelah
berhasil mengamankan situasi politik dalam negeri, Hakam selanjutnya
menunjukkan jati dirinya dalam gerakan pendidikan. la mengungguli seluruh penguasa
sebelumnya dalam kegiatan intelektual. Ia mengirimkan sejumlah utusan ke
seluruh wilayah timur untuk membeli buku-buku dan manuskrip, atau harus
menyalinnya jika sebuah buku tidak terbeli sekalipun dengan harga mahal untuk
dibawa pulang ke Cordoba. Dalam gerakan ini ia berhasil mengumpulkan tidak
kurang dari 100.000 buku dalam perpustakaan negara di Cordoba. Katalog
perpustakaan ini terdiri 44 jilid. Para ilmuan, filosof dan ulama dapat secara
bebas memasukinya. Untuk meningkatkan kecerdasan rakyatnya, ia mendirikan
sejumlah sekolah di ibukota. Hasilnya, seluruh rakyat Spanyol mengenal baca tulis.
Sementara itu umat Kristen Eropa, kecuali-para pendeta, tetap dalam kebodohan.
Universitas Cordoba merupakan universitas termasyhur di dunia pada saat itu.
Dengan meninggalnya Hakam pada tahun 366 H/976 M, masa kejayaan Dinasti Umayyah
di Spanyol berakhir.
Artikel/Jurnal:
http://moraref.kemenag.go.id/documents/article/97874782241978030
c. Hisyam
II (976-1009 M)
Hakam
mewariskan kedudukannya kepada Hisyam II, anaknya yang baru berusia sebelas
tahun. Karena usianya yang terlalu belia, ibunya yang bernama Sulthana Subh dan
seorang yang bernama Muhammad bin Abi Amir mengambil alih kekuasaan
pemerintahan. Muhammad bin Abi Amir seorang yang sangat ambisius. Setelah
berhasil merebut jabatan perdana menteri, ia menggelari namanya sebagai Hajib
al-Manshur. Ia merekrut militer dari kalangan suku Berber menggantikan militer
Arab. Dengan kekuatan militer Berber inilah berhasil menundukkan kekuatan
Kristen di wilayah utara Spanyol, dan berhasil memperluas pengaruh Bani Umayyah
di Barat Laut Afrika. Ia akhirnya memegang seluruh cabang kekuasaan negara,
sementara sang khalifah tidak lebih sebagai boneka mainannya. Surat resmi dan
maklumat negari diterbitkan atas namanya.
Hajib
Al Manshur meninggal tahun 393 H/1002 M di Madinaceli. Ia merupakan negarawan
dan jenderal Arab yang terbesar di Spanyol. Ia merupakan seorang jenderal yang
paling berjasa yang pernah hidup di Spanyol. Pada masa ini, rakyat lebih makmur
daripada masa sebelumnya. Ia digantikan oleh anaknya yang bernama al-Muzaffar
yang berhasil mempertahankan kondisi ini selama enam tahun. Sepeninggal
al-Muzaffar, Spanyol dilanda berbagai kerusuhan. Muzaffar mewariskan jabatan
Hajib kepada saudaranya yang bernama Abdur Rahman yang mendapat julukan
“Sanchol”. Ia lebih ambisius daripada pendahulunya, lantaran ia menginginkan
jabatan sebagai khalifah Cordoba. Ketika ia sedang melancarkan ekspedisi ke
wilayah utara, timbul gerakan pemberontakan di Cardoba yang dipimpin oleh
Muhammad. Sang pemberontak berhasil menghancurkan pertahanan khalifah Spanyol
dan menurunkan Hisyam dari jabatan khalifah dan menduduki jabatan ini dengan
gelar al-Mahdi. Sanchol ditangkap dan dipenjarakan. Tidak lama setelah berhasil
merebut jabatan khalifah, Muhammad al-Mahdi meninggal.
d. Sulaiman
Muhammad
al-Mahdi digantikan tokoh Umayyah lainnya yang bernama Sulaiman. Semenjak masa
ini proses kemunduran dan kejatuhan kekhalifahan Spanyol berlangsung secara
cepat. Tidak beberapa lama Hisyam II merebut jabatan khalifah untuk kedua
kalinya. Bersamaan dengan ini Cordoba, pusat kekhalifahan Spanyol, dilanda
kekacauan politik. Akhirnya pada tahun 1013 M dewan menteri yang memerintah
Cordoba menghapuskan jabatan khalifah. Pada saat itu kekuatan Muslim Spanyol
terpecah dalam banyak negara kecil di bawah pimpinan raja-raja atau muluk al
Thawaif. Tercatat lebih tiga puluh negara kecil yang berpusat di Seville,
Cordoba, Toledo dan lain-lain. Kekuatan Kristen wilayah utara Spanyol bergerak
untuk bangkit. Kekacauan pemerintahan pusat dimanfaatkan mereka sebaik-baiknya.
Alfonso VI, penguasa Castille yang menjabat sejak tahun 486 H/1065 M. berhasil
menyatukan tiga basis kekuatan Kristen: Castile, Leon, dan Navarre, menjadi
sebuah kekuatan militer hebat untuk menyerbu Toledo.
4. Periode
Keempat (1013-1086 M)
Spanyol
terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil dibawah pemerintahan
al-Muluk athThawaif (raja-raja golongan) berpusat di Seville, Cordova, Toledo
dan sebagainya. Konflik internal antar raja terjadi dan mereka yang bertikai
sering meminta bantuan raja-raja Kristen. Orang-orang Kristen yang melihat
kelemahan ini pun memulai inisiatif penyerangan. Meski situasi politik tidak
stabil, namun pendidikan dan peradaban terus berkembang karena para sarjana dan
sastrawan terlindungi dari satu istana ke istana lain.
5. Periode
Kelima (1086-1248 M)
Meski
terpecah dalam beberapa negara, terdapat kekuatan dominan yaitu Dinasti
Murabithun (1086-1143 M) dan Dinasti Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti
Murabithun didirikan Yusuf bin Tasyfin di Afrika Utara, memasuki Spanyol tahun
1086 M dengan mengalahkan pasukan Castilia. Perpecahan di kalangan Muslim
menyebabkan Yusuf bin Tasyfin mudah menguasai Spanyol. Tahun 1143 M
kekuasaannya berakhir karena para penggantinya lemah dan diganti DInasti
Muwahhidun yang didirikan Muhammad bin Tumart tahun 1146 M. Untuk beberapa
dekade mengalami kemajuan dan setelah itu mengalami kemunduran akibat serangan
tentara Kristen di Las Navas de Tolessa 1212 M, di Cordova 1238 M, dan Seville
1248 M. Seluruh kekuasaan Islam lepas kecuali Granada.
6. Periode
Keenam (1248-1492 M)
Granada
dikuasai Bani Ahmar (1232-1492 M) dan mengalami kemajuan peradaban seperti masa
Abdurrahman al-Nashir. Namun secara politik mereka lemah karena perebutan
kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad tidak senang pada ayahnya yang menunjuk
anaknya yang lain menggantikan sebagai raja. Ayahnya terbunuh dan diganti
Muhammad bin Sa’ad. Abu Abdullah pun meminta bantuan Raja Ferdinand dan
Isabella yang akhirnya ia naik tahta. Namun Ferdinand dan Isabella ingin merebut
kekuasaan Islam dan dengan terus menyerang kekuasaan Islam. Abu Abdullah
menyerah dan hijrah ke Afrika Utara. Umat Islam dihadapkan dua pilihan, yakni
masuk Kristen atau pergi dari Spanyol. Tahun 1609 M tidak ada lagi umat Islam
di daerah ini.
Kebudayaan
Islam masa Bani Umayyah mengalami perkembangan yang sangat mengesankan dan
mengagumkan pada periode pemerintahan Abdurrahman III an-Nashir (300-350
H/912-961 M). Di bawah khalifah ‘Abd al-Rahmân III dan penerusnya, al-Hakam II
dan al-Manshûr, Andalusia benarbenar mencapai puncak kejayaannya dalam bidang
keagamaan maupun kebudayaan. Kota Kordova berkembang menjadi pusat kebudayaan
yang sebanding dengan Kairawan, Damaskus, atau Baghdad. Menurut satu laporan
pada pengujung abad ke 4/10 kota Kordova saja memiliki 1.600 masjid, 900
pemandian umum, 60.300 villa, 213.077 rumah, dan 80.455 toko. Kemegahan dan
kemeriahan kota Kordova juga dimiliki oleh kota-kota lain di Andalusia. Ibn
Hawqal yang mengunjungi Andalusia pada pertengahan abad ke 4/10 melaporkan
bahwa semua kota di wilayah tersebut besar dan ramai, memiliki fasilitas
perkotaan yang sangat lengkap: jalan-jalan yang lapang dan bersih, pemandian,
dan penginapan. Pada saat yang sama dia juga mencatat bahwa Andalusia masih
memiliki sejumlah wilayah pedesaan yang kurang berkembang, biasanya dihuni oleh
penduduk beragama Kristen.
Menurut
analisis Chejne, laporan tentang banyaknya pemandian umum dapat digunakan
sebagai indikasi tingkat Islamisasi yang telah terjadi di kota-kota Andalusia.
Sebab, pemandian umum adalah sebuah fitur budaya yang tidak dikenal di
Andalusia sebelum masuknya Islam. Lagi pula pemandian umum pada masa tersebut
lebih banyak dipergunakan untuk kepentingan keagamaan. Karena itu pula
(asosiasi pemandian umum dengan agama Islam) penduduk Kristen Andalusia pada
umumnya tidak menyukai pemandian umum, sama seperti mereka tidak menyukai
adanya masjid dalam jumlah besar.
Pada
masa kejayaan ini, ketergantungan kultural Andalusia kepada Dunia Islam Timur
sudah berakhir, dan Andalusia mulai mengembangkan kebudayaannya sendiri dengan
identitasnya yang khas Andalusia. Islam dan bahasa Arab jelas merupakan faktor
terpenting dan sekaligus menjadi identitas dalam kemajuan budaya Andalusia saat
itu, sama dengan di berbagai belahan dunia Islam lainnya. Akan tetapi, kini
Andalusia mulai membangun identitas sosio kulturalnya sendiri. Sekadar contoh,
jika di berbagai tempat lain pendidikan anak dimulai dengan menghapal
al-Qur’an, di Andalusia pendidikan anak dimulai dengan pelajaran membaca dan
menulis menggunakan ayat-ayat al-Qur’an sebagai materi. Dengan cara itu mereka
dapat menguasai keterampilan membaca, menulis dan penguasaan kitab suci pada
saat yang bersamaan. Contoh lain adalah penggunaan penanggalan non-hijri oleh
sementara penulis Muslim di Andalusia. Bukan hal yang aneh jika seorang penulis
Muslim di Andalusia menggunakan secara paralel penanggalan hijri (Islam),
penanggalan Romawi (Masehi), dan penanggalan Koptik. Praktik ini misalnya dapat
dilihat dalam karya-karya Ibn al-Banna’ al-Marakkusyi, Ibn al-Idzari, dan Ibn
al-Khathib. Di sisi lain hal yang sama juga dilakukan oleh beberapa penulis
beragama Kristen.
Pada
masa keemasan ini Islamisasi Andalusia benar-benar mengalami kemajuan. Kemajuan
ini tentu saja dimungkinkan karena tersedianya stabilitas dan kemapanan sosial
politik yang diupayakan oleh para penguasanya. Dalam iklim yang mendukung
inilah kemudian tercapai berbagai pencapaian spektakuler pada berbagai bidang.
Ilmu-ilmu keagamaan berkembang sedemikian rupa mengimbangi perkembangan yang
terjadi di lingkup dinasti Abbasiyah. Lembaga pendidikan madrasah juga
berkembang dengan baik dan menjadi wadah pengembangan ilmu-ilmu keislaman
secara umum. Ibn Rusyd dikenal sebagai seorang penulis besar di bidang fikih,
terutama sekali karena karyanya Bidâyah al-Mujtahid. Perkembangan di bidang
ini dapat juga diapresiasi secara umum melalui berbagai karya yang merekam
biografi para ulama, di bidang fikih khususnya.
Sebuah
observasi menarik disampaikan oleh Watt dan Cachia tentang dominannya paham dan
pengamalan mazhab Maliki di Andalusia berbanding dengan mazhab-mazhab fikih
lainnya yang lebih popular di bagian dunia Islam lainnya. Menurut mereka,
kuatnya akar Helenisme di provinsi-provinsi Islam Timur menjadi landasan bagi
populernya mazhab Hanafi dan Syafi‘i yang lebih rasionalistik di lingkungan
dinasti Abbasiyah. Sementara itu di Andalusia, agama dan kebudayaan Islam dapat
dikatakan sepenuhnya ditafsirkan dan diamalkan sesuai dengan selera asli orang
Arab pendatang, dan karenanya menjadi lebih cenderung kepada penafsiran imam
Malik yang lebih literalistik dan berbasis pada pengalaman umat Islam Hijaz.
Dengan kata lain Islam Andalusia tidak bersentuhan secara intens dengan
Helenisme.
Ibn
Rusyd juga dikenal luas berkat pemikiran-pemikiran filsafatnya yang kemudian
menjadi sebuah paham tersendiri, lumrah dikenal sebagai Averroisme. Masih dalam
kelompok filsafat dan sains terdapat nama-nama popular semacam Ibn Bajah atau
Ibn Thufayl. Tetapi ada juga Ibn Barghut, Ibn Khayrah al-‘Attar, Ibn Ahmad al-Sarqasti,
atau Muhammad ibn al-Layth. Pada bidang bahasa dan sastra Arab, zaman keemasan
Andalusia juga melahirkan sejumlah besar nama-nama cemerlang, seperti Ibn Syahr
al-Ra‘ini, dan Yahya ibn Hisyâm al-Qarsyi.
Perkembangan
syair yang ditorehkan oleh umat Islam di Andalusia, nantinya berpengaruh cukup
signifikan terhadap perkembangan puisi di kalangan bangsa-bangsa Eropa.
Jelaslah dengan demikian bahwa pada penghujung abad ke 4/10 Andalusia telah
mengalami perkembangan peradaban yang sangat tinggi, dan dalam perkembangan ini
Islam dan bahasa Arab jelas merupakan unsur pembentuk yang sangat penting. Di
antara kemajuan yang bahkan memengaruhi Eropa yaitu:
a. Kemajuan
Intelektual Filsafat
Dikembangkan
abad ke-9 selama pemerintahan Muhammad bin Abdurrahman. Tokohnya adalah: Abu
Bakar Muhammad bin al-Sayigh (Ibn Bajjah). Masalah yang dikemukakan bersifat
etis dan eskatologis. Magnum Opusnya adalah Tadbir al-Mutawahhid Abu Bakar bin
Thufail. Ibn Rusyd menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dengan cermat dan
hati-hati dalam menyelaraskan antara filsafat dan agama. Abbas bin Farnas, ahli
kimia dan astronomi, menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim al-Naqqash,
ahli astronomi, dapat menentukan waktu gerhana matahari, membuat teropong, dan dapat
menentuklan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad bin Ibas dari
Cordova merupakan ahli farmasi. Umm al-Hasan bint Abi Ja’far dan saudara
perempuan al-Hafidz, dua ahli kedokteran dari kalangan wanita. Ibn Jubair,
menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterranea dan Sicilia. Ibn Batutah,
menulis tentang negeri Samudera Pasai dan Cina. Ibn Khaldun, perumus filsafat
sejarah. Ziyad bin Abdurrahman yang memperkenalkan mazhab Maliki. Ibn Yahya
yang menjadi Qadhi. Musik dan Seni, al-Hasan bin Nafi, sang penggubah lagu yang
dijuluki Zaryab. Bahasa dan Sastra Ibn Sayyidih Ibn Malik (pengarang Alfiyah),
Ibn Khuruf, Ibn al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu Hasan bin Usfur, Abu Hayyan
al-Gharnathi.
Ibn
Rusyd yang dianggap sebagai “Avicenna dari Barat”, mencurahkan tenaganya pada
filsafat, matematika, kedokteran, astronomi, logika, dan hukum Islam. Adapun
karya filosofinya yang utama adalah “Tahafut al-Tahafut.” Mempelajari filsafat
mulai dikembangkan pada abad ke 9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah
yang ke-5, yakni Muhammad Ibn al-Rahman (832-886). Tokoh utama pertama dalam
sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad bin alSayigh yang lebih
dikenal dengan Ibnu Bajjah. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr bin Thufail,
penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil di sebelah timur Granada dan wafat
pada usia lanjut tahun 1185 M. Ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi
dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay bin Yaqzhan.
Pada
akhir abad ke-12 M, muncullah seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di
gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibnu Rusyd dari Cordova. Ciri khasnya
adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian
dalam menggeluti keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fikih dengan
karyanya Bidayatul Mujtahid. Dari berbagai tokoh cendekiawan muslim di atas
ternyata mereka mencoba berfikir keras dan mendalam. Maka bisa dikatakan bahwa
kemajuan peradaban itu dipengaruhi oleh kemajuan intelektual yang di dalamnya
terdapat ilmu filsafat, sains, fikih, musik dan kesenian, begitu juga dengan
bahasa dan sastra, dan kemegahan pembangunan fisik. Islam telah membuktikan
pada masa lalu bahwa dengan kemajuan intelektual, khususnya ilmu filsafat,
kejayaan dan keemasan akan diraih dan dirasakan.
b. Kemajuan
Pembangunan
1) Cordova
Cordova
adalah ibu kota Spanyol sebelum Islam, yang kemudian diambil alih oleh Bani
Umayyah. Oleh penguasa Muslim, kota ini dibangun, diperindah untuk nantinya
dijadikan pusat kota juga pusat pemerintahan Andalusia. Jembatan besar dibangun
di atas sungai yang mengalir di tengah kota. Masjid-masjid hingga taman-taman
tak luput dibangun untuk peribadahan umat muslim juga menghiasi ibu kota
Spanyol Islam itu.
Video:
https://www.youtube.com/watch?v=jyzqwZMVQKM
Masjid
Cordoba di Spanyol (sumber: www.republika.co.id)
Masjid
Cordoba yang beralih fungsi menjadi Gereja Kathedral.(sumber: www.republika.co.id)
Pohon-pohon
dan bunga-bunga diimpor dari Timur. Di seputar ibu kota berdiri istana-istana
yang megah yang semakin mempercantik pemandangan. Setiap istana dan taman
diberi nama tersendiri dan di puncaknya terpancang istana Damsyik. Di antara
kebanggaan kota Cordova lainnya adalah masjid Cordova.
Posisi
Cordova diambil alih Granada di masa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol.
Arsitekturarsitektur bangunannya terkenal di seluruh Eropa. Istana al-Hambra
yang indah dan megah adalah pusat dan puncak ketinggian arsitektur Spanyol
Islam. Istana itu dikelilingi taman-taman yang tidak kalah indahnya. Kisah
tentang kemajuan pembangunan fisik ini masih bisa diperpanjang dengan kota dan
istana az-Zahra, istana al-Gazar, dan menara Girilda.
Reruntuhan
Istana Az-Zahra di Cordoba, Spanyol (sumber: www.republika.co.id)
1) Perdagangan:
pembangunan jalan raya dan pasar
Di
Cordoba juga dibangun sebuah istana yang indah, Az-Zahra, yang dianggap sebagai
suatu keajaiban kesenian Islam. Istana kerajaan ini memiliki 400 kamar yang
konon dapat menampung ribuan budak dan pegawai. Istana Az-Zahra terbuat dari
pualam putih yang didatangkan dari Nurmidia dan Carthago. Penerangan dilakukan
di jalan Cordoba sepanjang 16 kilometer dengan cahaya yang begitu terang.
Padahal, jalan-jalan yang bagus di Inggris dan Prancis pada saat itu masih
langka.
Untuk
melancarkan aktivititas perniagaan dan perdagangan, peranan sebuah pasar
amatlah penting. Pasar-pasar sebagai tempat berniaga akan memudahkan segala
aktivitas jual beli berbagai barang. Pada zaman pemerintahan Bani Umayyah di
Andalus, terdapat banyak pasar yang didirikan untuk menjadi pusat kegiatan
perdagangan dan memudahkan rakyat mendapatkan barangan keperluan mereka.
Pasar-pasar yang terdapat di Andalus, antara lain: al-qaysariyyah (special
market) dan pasarpasar biasa (common market). Penduduk di Andalus juga
menjalankan sistem pemusatan pasaran (centralization of market) yang terdiri
suq al-itr (pasar minyak wangi), suq al-attarin (pasar rempah ratus),
al-bazzazin (pasar pakaian), al-qarraqin (pasar kasut), suq al-zayyatin (pasar
minyak zaitun) dan banyak lagi (Yusuf dan Ezad Azraai Jamsari, 2012: 68).
3)
Pertanian: sistem irigasi
Sektor
pertanian telah memanfaatkan dam untuk mengecek curah air, waduk untuk konservasi,
dan pengaturan hidrolik dengan water wheel (roda air). Tanaman lain yang turut
dihasilkan di Andalus ialah buah zaitun, buah anggur, sayur-sayuran dan
beberapa jenis buah-buahan yang lain. Hasil pertanian ini penting untuk
memenuhi keperluan penduduk di Andalus. Selain tanaman untuk dimakan, Andalus
juga menghasilkan tanaman, seperti kapas dan linen, untuk diproses dan
dijadikan pakaian mereka sehari-hari. Tanaman kapas dan linen ini kebanyakannya
terdapat di wilayah Jativa. Di samping itu, Andalus turut menghasilkan
produk-produk hutan, seperti kayu-kayuan bermutu tinggi. Di wilayah Carthago
Nova, sejenis spesis tumbuhan liar yang dikenali sebagai esparto dalam bahasa
Sepanyol tumbuh dengan banyak. Tumbuhan ini digunakan oleh orang Rum untuk
membuat tali dan tikar.
Artikel/Jurnal:
http://moraref.kemenag.go.id/documents/article/98077985952783010
c. Kemajaun
sains dan teknologi
1) Ilmu Kedokteran
Ilmu
kedokteran mengalami kemajuan yang cukup menonjol. Spanyol yang membentuk
sebuah unit kebudayaan, juga melahirkan ahli kedokteran, seperti Ibn Rusyd dan
Ibn Juljul. Ibn Juljul disamping sebagai dokter juga dikenal sebagai filosof.
Abu Qasim al-Zanrawi yang namanya dilatinkan sebagai Abulcasim of the west
adalah figure seorang ahli bedah yang besar. Dia mengembangkan ilmunya di masa
pemerintahan Abdurrahman al-Nasir. Dia dikenal sebagai perintis ilmu pengenalan
penyakit diagnotic, cara penyembuhan dan pembedahan. Dia juga seorang dokter
gigi. Ibnu Khatib dan Ibn Khatima, keduanya ahli dalam penyakit kolera dan
mata. Tokoh lain dalam ilmu kedokteran adalah Ibn Wafid (Abu Guefit) yang
terkenal dalam metode rasional di dalam makanan. Ahmad Ibnu Ibas dari Cordova
adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Ummul Hasan binti Abi Ja’far dan saudara
perempuan al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita. Dari
berbagai cendekiawan muslim di atas terutama dibagian kedokteran, merupakan
dasar pengembangan ilmu kedokteran zaman sekarang, baik itu metode
kedokterannya hingga peralatan yang dibutuhkannya.
2)
Astronomi
Dalam
bidang astronomi dapat disebutkan tokohnya adalah Abu Ma’syar alias Albumasar.
Ia dikenal sebagai seorang astronomi yang sangat terkenal. Dia mempunyai
kepercayaan tentang adanya pengaruh bintang dalam pokok-pokok kehidupan manusia,
tentang lahir maupun matinya. Al-Majriti juga salah seorang ahli astronomi,
disamping ahli hitung, kedokteran dan kimia. Sedang Al-Zarqali adalah seorang
ahli astronomi dan juga ahli nujum yang terkenal pada masanya. Dia juga
mengemukakan perkiraan gerak matahari dengan melihat posisi bintang-bintang.
Ibrahim bin Yahya al- Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat
menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia
juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata
surya dan bintang-bintang.
3)
Matematika
Dalam
bidang matematika yang berkembang pada masa itu adalah perhitungan. Terkadang
kita berfikir nilai nol tidak begitu penting, tetapi cendekiawan muslim
matematika angka nol merupakan bagian dari angka, sehingga mereka menemukan
angka nol dalam perhitungan. Hal ini dikemukakan oleh seorang ahli matematika
bahwa dengan angka nol akan mempermudah dalam penggunaan bilangan bila
dibandingkan dengan angka romawi yang dipakai di dunia Kristen ketika itu.
d. Musik
dan Kesenian
Dalam
bidang musik dan seni, pada masa Bani Umayyah juga telah mengalami pengembangan
hingga mencapai puncak kecemerlangan dengan tokohnya, al-Hasan Ibn Nafi, yang
dijuluki Zaryab. Setiap kali diselenggarakan pertemuan dan perjamuan, Zaryab
selalu menampilkan kebolehannya menggubah lagu. Keahliannya itu diwariskan
kepada anak-anaknya dan juga kepada budak-budak sehingga kemasyhurannya
tersebar luas.
e. Bahasa
dan Sastra
Bahasa
dan sastra telah menjadi bahasa administrasi pemerintahan Islam di Spanyol,
khususnya di Cordova. Hal ini dapat diterima oleh orang-orang muslim dan non
muslim. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor-duakan bahasa asli mereka. Mereka
juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara
maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn Malik, pengarang
Alfiyah, Ibnu Khuruf, Ibnu al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan bin Usfur,
dan Abu Hayyan al-Ghamathi. Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya
sastra bermunculan, seperti Al’Iqd al-Farid karya Ibnu Abd Rabbih,
al-Dzakhirahji Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibnu Bassam, Kitab al-Qalaid buah
karya al-Fath bin Khaqan, dan banyak lagi yang lain.
f. Sejarah
dan Geografi
Dalam
bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak
pemikir terkenal, Ibnu Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang
negeri-negeri Muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibnu Batuthah dari Tangier
(1304-1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibnu Khatib (1317-1374 M)
menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibnu Khaldun dari Tunisia adalah perumus
filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol, yang
kemudian pindah ke Afrika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar