![]() |
A.
Latar Belakang
Pembelajaran
di sekolah perlu dirancang agar peserta didik tidak hanya menerima informasi,
tetapi juga terlibat aktif dalam mengamati, mencoba, berdiskusi, dan
menghasilkan karya. Namun, kegiatan belajar terkadang masih didominasi
penjelasan satu arah dan penggunaan media yang terbatas. Kondisi tersebut dapat
membuat sebagian peserta didik kurang terlibat, cepat bosan, atau kesulitan
memahami konsep yang abstrak. Di sisi lain, kardus bekas mudah ditemukan di
lingkungan rumah maupun sekolah. Bahan ini relatif murah, ringan, mudah
dipotong dan dibentuk, serta dapat dimanfaatkan kembali. Dengan perencanaan
yang tepat, kardus dapat diubah menjadi media pembelajaran seperti kotak
misteri, roda putar, papan konsep, kartu pertanyaan, model bangun ruang,
diorama, atau alat peraga tematik. Pemanfaatan kardus juga memberi kesempatan
kepada peserta didik untuk belajar melalui pengalaman langsung. Mereka dapat
merancang bentuk, mengukur, menyusun, menulis informasi, menguji fungsi media,
lalu menjelaskan hasilnya kepada teman. Proses ini mendukung pembelajaran
mendalam (deep learning) yang berorientasi pada pembelajaran berkesadaran,
bermakna, dan menggembirakan (BBM), sekaligus menumbuhkan kreativitas dan
kepedulian terhadap lingkungan. Melalui praktik baik “Kardus sebagai Media
Pembelajaran”, bahan sederhana yang sering dianggap tidak terpakai diarahkan
menjadi sarana belajar yang fungsional. Keberhasilan kegiatan tidak semata-mata
diukur dari keindahan produk, tetapi dari kesesuaian media dengan tujuan
pembelajaran, keterlibatan peserta didik, kualitas diskusi, dan pemahaman
konsep yang ditunjukkan
B. Langkah pembuatan
1.
Tentukan tujuan
pembelajaran dan pilih bentuk media yang sesuai. Kali ini yang dipraktikkan
Pelajaran PAI dengan materi yang di ambil ialah hukum nun mati dan tanwin,
2.
Buat sketsa desain dan
ukur bagian-bagian kardus yang akan dipergunakan sebagai media pembelajaran,
lalu potong-potong menggunakan gunting atau kater,
3.
Karena hukum nun mati dan
tanwin ada 4 maka dibuat polanya lebih besar 4 buah sementara nanti saat proses
siswa akan disuruh menempel hurup dari bagian tersebut, sehingga dibuat juga
pola lebih kecil sebanyak hurup hijaiyah
4.
Setelah terpotong-potong,
4 bagian dengan pola lebih besar tersebut masing-masing ditulis menggunakan
spidol permanent dengan tulisan Izhar, Idgam, Iklab dan Ikhfa.
5.
Sementara
potongan-potongan dengan pola yang lebih kecil di tuliskan juga menggunakan
spidol permanen yakni semua hurup hijaiyah satu-satu di setiap potongan.
6.
Uji media untuk
memastikan mudah digunakan, aman, dan sesuai dengan tujuan belajar.
C. Cara Menggunakan Media Pembelajaran dari Kardus
1 Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, materi inti, serta
aturan penggunaan media.
2 Pelajaran yang dipraktikkan kali ini ialah mata Pelajaran PAI
dengan materi hukum nun mati dan tanwin, titik tekannya disini ialah pada huruf
yang di dapat oleh masing-masing bagian
baik itu izhar, idgam, iklab dan ikhfa.
3 Guru menempel kardus dengan pola yang lebih besar di papan
(di depan) sebanyak 4 potongan yang bertuliskan izhar, idgam, iklab dan ikhfa .
4 Guru membagikan kardus dengan pola yang lebih kecil (seperti
kartu) yang bertuliskan hurup hijaiyah di masing-masing potongan tersebut kepada
semua siswa.
5 Guru meminta siswa bergatian maju untuk menempelkan potongan
kardus yang polanya lebih kecil (seperti kartu) tersebut di kardus yang polanya
lebih besar.
6 Siswa harus menempelkan sesuai dengan hurup yang di dapat
oleh kardus yang polanya lebih besar (dalam ilmu tajwid izhar dapat 6 huruf
maka 6 orang yang dapat bagian menempel kardusnya disna, idgam dapat 6 hurup
juga 6 orang, iklab 1 huruf berarti seorang dan ikhfa dapat 15 huruf artinya 15
orang yang menempel hurup yang didapat)
7 Guru memberikan umpan balik, meluruskan miskonsepsi, dan
mengaitkan kegiatan dengan konsep utama.
8 Peserta didik melakukan refleksi singkat tentang hal yang
dipahami, kesulitan, dan perbaikan media.
Contoh Implementasi
pada Berbagai Mata Pelajaran:
Matematika: model
bangun ruang, pecahan, roda operasi hitung, dan papan koordinat.
IPA: model sistem
organ, rantai makanan, tata surya, atau siklus air.
Bahasa Indonesia:
kotak kosakata, papan alur cerita, dan kartu unsur teks.
IPS: diorama lingkungan, peta timbul sederhana, dan garis waktu peristiwa.
Bahasa Inggris: papan kosakata, roda kata, dan permainan mencocokkan istilah dengan gambar
