Mansur

SITUS PENDIDIK : Ust.MANSUR,A.Ma,S.Pd.I,M.Pd.I,Gr.

Selasa, 20 Agustus 2019

TOKOH-TOKOH ALIRAN HUMANISTIK



A. Pandangan David A. Kolb terhadap Belajar.

Kolb (1939-sekarang) seorang ahli penganut aliran humanistik membagi tahap-tahap belajar menjadi 4, yaitu:
1.        Tahap pengalaman konkrit
Pada tahap paling awal dalam peristiwa belajar adalah seseorang mampu atau dapat mengalami suatu peristiwa atau suatu kejadian sebagaimana adanya. Ia dapat melihat dan merasakannya, dapat menceriterakan peristiwa tersebut sesuai dengan apa yang dialaminya
2.        Tahap pengamatan aktif dan reflektif
Tahap kedua dalam peristiwa belajar adalah bahwa seseorang makin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dialaminya.
3.        Tahap konseptualisasi
Tahap ke tiga dalam peristiwa belajar adalah seseorang sudah mulai berupaya untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, atau hukum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi obyek perhatiannya.
4.        Tahap eksperimentasi aktif.
Tahap terakhir dari peristiwa belajar menurut Kolb adalah melakukan eksperimentasi secara aktif. Pada tahap ini seseorang sudah mampu mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori atau aturan-aturan ke dalam situasi nyata.

B. Pandangan Peter Honey dan Alan Mumford terhadap Belajar.

Tokoh teori humanistik lainnya adalah Peter Honey (1937-sekarang) dan Alan Mumford (1933-sekarang). Honey dan Mumford menggolonggolongkan orang yang belajar ke dalam empat macam atau golongan, yaitu: 
1. Kelompok aktivis.
Orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok aktivis adalah mereka yang senang melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru.
2. Kelompok reflektor.
Mereka yang termasuk dalam kelompok reflektor mempunyai kecenderungan yang berlawanan dengan mereka yang termasuk kelompok aktivis. Dalam melakukan suatu tindakan, orang-orang tipe reflektor sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan. Pertimbangan-pertimbangan baik-buruk dan untung-rugi, selalu diperhitungkan dengan cermat dalam memutuskan sesuatu.
3. Kelompok Teoris.
Lain halnya dengan orang-orang tipe teoris, mereka memiliki kecenderungan yang sangat kritis, suka menganalisis, selalu berfikir rasional dengan menggunakan penalarannya.
4. Kelompok pragmatis.
Berbeda dengan orang-orang tipe pragmatis, mereka memiliki sifat-sifat yang praktis, tidak suka berpanjang lebar dengan teori-teori, konsep-konsep, dalil-dalil, dan sebagainya.  

C. Pandangan Jurgen Habermas terhadap belajar.          

Tokoh humanis lain adalah Hubermas (1929-sekarang). Menurutnya, belajar baru akan terjadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya. Lingkungan belajar yang dimaksud di sini adalah lingkungan alam maupun lingkungan sosial, sebab antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Dengan pandangannya yang demikian, ia membagi tipe belajar menjadi tiga, yaitu;  
1. Belajar Teknis ( technical learning); Yang  dimaksud  belajar  teknis  adalah  belajar  bagaimana  seseorang  dapat berinteraksi dengan lingkungan alamnya secara benar. Pengetahuan dan ketarampilan apa yang dibutuhkan dan perlu dipelajari agar mereka dapat menguasai dan mengelola lingkungan alam sekitarnya dengan baik.
2. Belajar Praktis ( practical learning); Sedangkan yang dimaksud belajar praktis adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, yaitu dengan orang-orang di sekelilingnya dengan baik. Kegiatan belajar ini lebih mengutamakan terjadinya interaksi yang harmonis antar sesama manusia.
3. Belajar Emansipatoris (emancipatory learning). Lain halnya dengan belajar emansipatoris. Belajar emansipatoris menekankan upaya agar seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi budaya dalam lingkungan sosialnya.

D. Pandangan Benjamin Samuel Bloom (1913-1999) dan David Krathwohl (1921-2016) terhadap Belajar.

Selain tokoh-tokoh di atas, Bloom dan Krathwohl (1956) juga termasuk penganut aliran humanis. Tujuan belajar yang dikemukakannya dirangkum ke dalam tiga kawasan yang dikenal dengan sebutan Taksonomi Bloom. Setidaknya di Indonesia, taksonomi Bloom ini telah banyak dikenal dan paling populer di lingkungan pendidikan. Secara ringkas, ketiga kawasan dalam taksonomi Bloom tersebut adalah sebagai berikut: 
1. Domain kognitif, terdiri atas 6 tingkatan, yaitu:
a. Pengetahuan (mengingat, menghafal)
b. Pemahaman (menginterpretasik an)
c. Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan masalah)
d. Analisis   (menjabarkan   suatu
e. Sintesis (menggabungkan bagian-bagian kosep menjadi suatu konsep utuh)
f. Evaluasi (membandingkan nilai-nilai, ide. metode, dsb.)
2. Domain psikomotor, terdiri atas 5 tingkatan, yaitu:
a. Peniruan (menirukan gerak)
b. Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
c. Ketepatan (melakukan gerak dengan benar)
d. Perangkaian  (melakukan  beberapa gerakan sekaligus dengan benar).
e. Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar) 
3. Domain afektif, terdiri atas 5 tingkatan, yaitu:
a. Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu)
b. Merespon (aktif berpartisipasi)
c. Penghargaan (menerima nilainilai, setia kepada nilai-nilai tertentu)
d. Pengorganisasian(menghubung- hubungkan nilai-nilai yang dipercayainya)
e. Pengamalan (menjadikan nilai-nilai

@MENZOUR_ID



Tidak ada komentar:

Posting Komentar