Mansur

SITUS PENDIDIK : Ust.MANSUR,A.Ma,S.Pd.I,M.Pd.I,Gr.

Rabu, 21 Agustus 2019

MODUL 11 KB 4 PPG PAI : TECHNOLOGICAL, PEDAGOGICAL AND CONTENT KNOLEDGE (TPACK) DALAM PEMBELAJARAN PAI



TECHNOLOGICAL, PEDAGOGICAL  AND CONTENT KNOWLEDGE (TPACK)  DALAM PEMBELAJARAN PAI

A.    Technological, Pedagogical and Content Knowledge (TPACK)

Technological, Pedagogical and Content Knowledge (TPACK) adalah sebuah konsep integrasi dari tiga unsur yang berbeda; teknologi, pedagogi, dan konten pengetahuan. Pengetahuan tentang ketiganya disatukan menjadi sebuah kemampuan pendidik yang komprehensif dalam dunia pendidikan bernama TPACK. Tiga unsur yang disatukan dalam perencanaan, proses dan evaluasi pendidikan itu menjadi trio yang hebat dalam pengembangan ekosistem pendidikan masa depan yang dikenal sebagai era teknologi digital.

Teknologi mutakhir yang digunakan oleh banyak orang adalah teknologi digital setelah berakhirnya teknologi sederhana semisal kapur, OHP dan seterusnya. Dalam prosesnya, ada digitalisasi data dalam segala bidang kehidupan, baik itu ekonomi, politik, sosial, kebudayaan, pendidikan dan lainnya. Proses digitalisasi yang dimaksud adalah migrasi data dari data real dalam bentuk manual ke data yang virtual. Contoh konkret dalam dunia pendidikan adalah migrasi dari printed book ke electronic book. 

Dalam konteks dunia administrasi negara, ada migrasi data dari berbentuk kartu manual menjadi virtual semisal e-ktp, paspor dan lainnya. Hampir semua proses awal digitalisasi dimulai dari input data secara elektronik dan direkam kemudian dapat diakses secara virtual, kapan saja dan dimana saja. Teknologi digital ini dapat diadaptasi dan disesuaikan dalam dunia pendidikan. Pedagogi atau seni mengajar anak kecil adalah core ilmu pendidikan. Dengannya kita mampu merekayasa dari tujuan pendidikan, proses sampai kepada evaluasinya. Kesuksesan akhir pendidikan ditentukan oleh keputusan awal dalam menerapkan pilihan ilmu pedagogi.

Apakah pedagogi yang diterapkan itu tepat, cocok, dan meningkatkan mutu pendidikan, itu tergantung dari infrastruktur pendidikan, SDM guru, input siswa, kekayaan materi dan media. Dengan melihat segala komponen pendidikan yang berpengaruh melalui need analysis, maka ilmu seni mengajar anak kecil ini akan menjadi bagian penting dalam keberhasilan pendidikan. Karena, dengan ilmu inilah semua aspek pendidikan yang terlibat akan dikaji dan dipertimbangkan. Content knowledge atau isi pengetahuan adalah objek yang dituju oleh subjek pendidikan bernama guru dan siswa. Objek ini bisa dalam bentuk sikap, pengetahuan atau keterampilan. Ketiganya bisa bersenyawa satu sama lain dalam satu bidang ilmu (baca: mata pelajaran) bisa juga berpisah satu sama lainnya.

Semisal Mata Pelajaran PAI, Mata pelajaran ini memiliki konten semua domain pendidikan: sikap, pengetahuan dan juga keterampilan. Namun untuk belajar Matematika, konten yang disajikan adalah pengetahuan dan keterampilan saja, sedangkan sikap dilakukan secara indirect teaching. Jadi konten pengetahuan merupakan objek yang bisa didesain sedemikian rupa sehingga menggabungkan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam mendesain konten pengetahuan dalam TPACK adalah sesuatu yang prospektif dilakukan. Pengetahuan pendidik tentang teknologi, pedagogi dan konten yang integratif dapat menjadi salah satu kemampuan dahsyat dalam implementasi pendidikan (kurikulum) masa kini (era digital).

Ketika abai terhadap penggunaan teknologi, maka akan dipastikan pengembangan pendidikan akan stagnan dan tidak dapat menyesuaikan dengan pengembangan jaman. Jadi, TPACK adalah sebuah konsep yang tepat sebagi sebuah instrument implementasi kurikulum dalam ekosistem pendidikan di era digital. Ketika manusia menemukan teknologi digital melalui penemuan komputer, maka teknologi ini menjadi instrument penting dalam kehidupan manusia. Di awal periode ini, teknologi komputer menjadi sebuah “teknologi informasi” yang cepat dan modern. Setiap sistem kehidupan mengadopsi dan mengadaptasi teknologi ini sebagai teknologi informasi yang dibutuhkan.

Seiring dengan perkembangannya, teknologi informasi ini bermetamorfosis menjadi teknologi lainnya yaitu teknologi data. Teknologi data adalah fase kedua setelah teknologi informasi. Teknologi ini menjadi hal yang lumrah dan digunakan banyak orang, baik untuk kepentingan dimensi ekonomi, politik dan lainnya. Teknologi data adalah teknologi untuk menguasai data dan menjual atau menggunakan data virtual untuk kepentingan pemiliknya. Semakin orang menguasai data, maka semakin ia menguasai dunia dan tentu saja menjadi pemenang dalam persaingan kontestasi di dunia. Saat ini, banyak orang menggunakan website sebagai media untuk informasi dan publikasi. Koran yang dicetak atau tv yang disiarkan menghadapi persaingan sengit dengan koran  atau tv dalam jaringan (daring -online).

Persaingan ini (online vs offline) semakin sengit manakala setiap orang dapat mengakses internet dengan murah dan mudah. Konten informasi offline semakin terseret dan makin ditinggalkan oleh manusia era digital.  Orang berlomba untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya untuk dijadikan alat menguasai dunia. Cara pengumpulannya adalah dengan cara korporasi modern atau menggunakan seluruh partisipasi manusia. Google, misalnya, perusahaan ini menggunakan partisipasi seluruh manusia yang terkoneksi internet untuk mengumpulkan data dan dia mengumpulkannya dalam sebuah mesin untuk digunakan sebagai kepentingan bersama. Hal ini membuat setiap orang bisa memproduksi data dan kemudian bisa di jual atau dipublikasikan dengan bebas, sehingga setiap orang bisa menjadi cameramen, bisa jadi produser, bisa jadi selebritis dan seterusnya.

Inilah era perpindahan dari teknologi informasi ke teknologi data. Sebagai contoh, ketika setiap orang merasa butuh terhadap dunia virtual, maka yang selanjutnya dibutuhkan adalah data virtualnya. Data ini harus direkam secara virtual dari dunia real. Salah satu yang sangat berpengaruh adalah memetakan dunia dengan digital map. Google dengan Google Map-nya mampu menjadi salah satu perusahaan yang memberikan konstribusi data paling besar disamping Search Engine yang dimilikinya. Peta yang dimilikinya menjadi data yang kemudian menjadi awal pemetaan kekuatan sistem kehidupan lainnya. Misalnya, sistem transportasi yang menghasilkan sistem transportasi online yang insfrastrukturnya ditentukan oleh Google Map.

Contoh lain, dengan kemampuan mengumpulkan data yang luar biasa, Google mampu untuk mengumpulkan semua pengembang aplikasi dan menjualnya di Play Store dan setiap orang “membeli” aplikasi di tokonya. Begitu juga Google membantu para pebisnis daring membuat lebih mudah dengan menyediakan Market Place sebagai cara baru dalam transaksi jual beli. Beberapa contoh migrasi dari teknologi informasi ke teknologi data inilah yang membuat dunia pendidikan kita harus merubah paradigma lamanya. Dahulu sekolah itu harus ada gedungnya, gurunya dan segala aspek real yang harus dipenuhinya. Hari ini banyak sekolah yang menyediakan fasilitas pendidikan hanya bermodalkan teknologi data.

Peserta didik tinggal duduk di rumahnya dan membuka komputer yang dimilikinya dengan penggunaan listrik dan jaringan internet di rumahnya.  Mereka tinggal registrasi dan melakukan instruksi yang mudah dilakukan secara online. Prosesnya mirip dengan sekolah manual namun ekosistemnya di virtual. Ada Guru yang dipersiapkan dalam teknologi datanya semisal video pembelajaan, ada materi ajar yang sangat lengkap yang dipersiapkan oleh teknologi datanya, ada media pembelajaran yang sudah menggunakan computer/ internet based, ada juga evaluasi yang didesain secara valid dan reliabel dalam mengukur keberhasilan pendidikannya. Sistem ini lebih hebat dari sekolah nyata. Mungkin yang kurang adalah pengalaman nyata siswa dalam interaksi bersama kawan-kawan sekelasnya.

Dahulu sistem yang mirip -walaupun berbeda jauh- dengan sistem ini adalah long distance learning (Pembelajaran jarak jauh). Aktor utama yang melakukan ini adalah Universitas Terbuka dan Sekolah Terbuka. Apabila ada Perguruan tinggi yang membuka kelas jauh, maka dinilai telah mencederai mutu pendidikan sehingga di-black list Kementerian. Namun, hari ini Kementerian Ristekdikti mendorong setiap universitas untuk membuka kelas online. Kelas ini sama saja dengan kelas jauh, walaupun dalam sistemnya berbeda jauh sekali.  Kelas jauh yang dilarang adalah kelas yang sistem manajemen mutunya tidak jelas, kelas jauh online dapat ditelusuri dengan mudah sistem manajemen mutu pendidikannya. Jadi ketika lembaga pendidikan memiliki data yang lengkap dan diintegrasikan dengan teknologi data, maka lembaga pendidikan memiliki peluang untuk membuka kelas virtual yang diperagakan oleh banyak universitas asing di Indonesia.
  
B.    Implementasi TPACK pada Pendidikan Dasar dan Menengah

TPACK baik sebagai teknologi informasi dalam bentuk unit pembelajaran di kelas maupun TPACK dalam bentuk teknologi data dalam bentuk kelembagaan dapat menjadi alternatif paling depan dalam mengawinkan pendidikan nyata dengan pendidikan virtual di era digital. TPACK dalam konteks pembelajaran bisa dengan menggunakan model Computer Assisted Instruction (CAI) atau yang lebih ekstrim dengan menggunakan Computer Based Instruction (CBI). Komputer sebagai instrument utama dalam pembelajaran ini harus dipersiapkan dalam insfrastruktur pendidikan. TPACK dalam kelembagaan bisa didesain dengan menggunakan aplikasi yang dikembangkan semisal ruangguru.com, gurusd.net, atau aplikasi-aplikasi lainnya.

Bagaimana TPACK diaplikasikan di dunia pendidikan dasar dan menengah (dikdasmen)? Karena teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan kita (walaupun belum bisa dipukul rata bagi daerah pedalaman), maka penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan mutlak diperlukan. Dikdasmen memiliki peluang sekaligus tantangan dalam implementasi TPACK. Peluang yang ada harus diambil menjadi sebuah solusi pendidikan masa depan dan tantangan perlu dicari strateginya agar keniscayaan teknologi dalam dunia pendidikan bisa dilakukan secepatnya. Semakin cepat bermigrasi, maka semakin cepat adaptasi pendidikan era digital dilakukan dan semakin cepat juga keberhasilannya.

Implementasi TPACK di dikdasmen bisa dilakukan dengan dua cara; di ruang kelas dengan menggunakan teknologi sebagai bagian dari pembelajaran dan di ruang global sebagai aplikasi dari implementasi teknologi data. 
1.  Implementasi TPACK di ruang kelas memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. CAI sebagai contoh yang paling mudah dan CBI adalah contoh yang paling sulit. Implementasi CAI adalah pembelajaran yang dibantu dengan komputer dan sepertinya ini sudah banyak dilakukan oleh banyak guru di Indonesia. Penggunaan Word Processor, atau menggunakan aplikasi Microsoft office, Microsoft Power Point, Microsoft Excel adalah beberapa contoh yang digunakan dalam CAI. Alat yang mungkin sering digunakan adalah komputer dan projector. Kemampuan menguasai aplikasi ini relatif mudah dan cepat untuk dipelajari.
2.  Implementasi TPACK yang agak rumit dan membutuhkan kemampuan komputer lebih adalah menggunakan CBI. Sesuai dengan namanya computer-based, maka pembelajaran ini berbasis komputer. Semua dilakukan dengan komputer. CBI sebagai sebuah model pembelajaran bisa menggunakan banyak hal dalam komputer, baik belajar dengan menggunakan aplikasi atau belajar dengan seluruh prosesnya menggunakan komputer. Komputer adalah alat utama dan pertama dalam belajar.
Beberapa cara yang bisa digunakan adalah dengan menggunakan aplikasi yang bertebaran di internet. Ada yang gratis ada juga yang berbayar.

Salah satu yang bisa digunakan dalam CBI yang mudah adalah menggunakan web-based learning. Guru bisa memanfaatkan web sebagai bahan untuk belajar, baik web milik orang lain yang sudah established atau membuat web sendiri sesuai dengan tujuan pembelajaran. Beberapa social software yang bisa digunakan adalah blog seperti di Blogspot, WordPress, EzBlogWorld, Bachraich Blog, Getablog atau seperti Wiki dan Podcast. Guru tinggal mendesain blognya atau Wiki dan Podcastnya sesuai dengan tujuan pembelajaran. Siswa bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Agar TPACK bisa menjadi sebuah ekosistem pendidikan berbasis data, maka guru atau sekolah harus mengembangkan aplikasi komputer.

Data-data harus lengkap sehingga isi dari aplikasinya disinyalir dapat membantu siswa belajar dengan cepat dan mudah. Ada dua (2) model yang bisa dikembangkan dalam TPACK bebasis data ini, yaitu:
a.  TPACK sebagai model untuk membantu siswa belajar tambahan di rumah dan sekolah dapat mengontrol belajarnya secara sistematis, atau
b.  TPACK sebagai model global yang bisa diakses oleh semua orang untuk belajar. Ruangguru.com adalah salah satu contoh yang mengaplikasikan TPACK dalam dimensi pendidikan yang global tanpa terikat dengan lembaga pendidikan tertentu.

Situs ini mengambil ruang bimbel online dengan pola bisnis adsense. Beberapa strategi TPACK yang dijelaskan di atas menjadi bagian dari peluang implementasi TPACK di Dikdasmen. Ini sangat mungkin dilakukan dan sangat mudah dan murah. Peluang lain adalah berdimensi ekonomis dimana setiap guru yang memiliki konsistensi dalam menggunakan blog (misalnya) dapat mendaftarkan diri ke adsense semacam Google Adsense atau Facebook Adsense. Dari konsistensi data yang dibuat oleh guru atau sekolah, adsense akan menjual data kepada pengiklan sehingga para siswa yang sedang belajar akan disuguhi iklan yang sesuai dengan tujuan blog.  Guru yang memiliki blog akan dapat uang yang besar dalam “menjual data” kepada siswanya. Hal ini bisa menjadi peluang kesejahteraan ekonomi baru di era digital. Dalam

beberapa kasus, peluang ini tidak baik karena iklan akan mengganggu proses belajar online. Tapi dalam beberapa konteks, keuntungan adsense bila diperbolehkan akan menyemangati guru dalam kreatifitas pengembangan belajar online. Tantangan terbesar dalam melakukan TPACK di Dikdasmen adalah kualifikasi guru dalam bidang pengetahuan teknologi komputer (dan turunannya semacam smartphone, phablet, tablet dan sejenisnya). Tidak semua guru memahami teknologi ini sebagai sebuah kemampuan yang penting di luar pedagogis dan pengetahuan substansi mata pelajaran yang diajarkannya. Bila mereka tidak tahu teknologinya, maka TPACK tidak akan berhasil. Solusi yang paling memungkinkan adalah melatih guru dalam memahami teknologi komputer/informasi (TI) terlebih dahulu.

Baik TI tingkat sederhana seperti yang dilakukan dalam CAI atau TI lebih rumit dengan menggunakan CBI dan pengembangan aplikasi. Bila guru sudah mampu memahami paradigma atau pola kerja komputer serta ingin berani mengintegrasikan dalam pembelajaran, maka langkah ini adalah langkah pertama yang bisa mensukseskan TPACK langkah berikutnya. Guru yang tidak menguasai secara penuh, bisa mempelajari dasar-dasarnya dengan meminta bantuan ahli untuk mengembangkan blog atau aplikasi yang diinginkannya. Di samping guru, tantangan terbesar adalah insfrastruktur berupa alat-alat komputer dan akses internet yang baik. Pendanaan yang tidak murah harus dipersiapkan oleh sekolah dalam implementasi TPACK.

Bagi sekolah di pusat kota dengan siswa yang relatif memiliki perlengkapan seperti laptop dan/atau android, mereka akan lebih mudah untuk dimigrasikan kepada TPACK. Tapi, bagi mereka yang di pedalaman, hal ini membutuhkan pendanaan yang besar yang harus disediakan oleh sekolah (pemerintah) dan mengubah paradigma terlebih dahulu.  

C.    Implementasi TPACK di Perguruan Tinggi

Perguruan Tinggi (PT) memiliki perbedaan filosofis dengan Dikdasmen. Perbedaan itu diejawantahkan dalam Tridarma PT yang berisi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk strategi pendidikan dan pengajaran, TPACK dapat tidak memiliki perbedaan yang mencolok dari Dikdasmen. Perbedaan yang penting adalah kontens blog, wiki, podcast atau aplikasinya saja. Penyesuaian isi tentu disesuaikan dengan model pembelaran yang bukan hanya menggunakan ilmu pedagogi tapi menambahkan dengan pendekatan andragogi.

Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan PT baik oleh dosen sebagai pengajar dan peneliti atau lembaga sebagai sistem yang melakukan tugas pendidikan, penelitian dan pengabdian. Untuk para dosen yang menggunakan TPACK sebagai instrument dosen professional maka ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. 
1.  Dalam konteks pembelajaran, langkahnya adalah menggunakan TPACK sebagai media pembelajaran seperti yang dilakukan oleh guru di Dikdasmen. Perbedaannya adalah bagaimana sistem SKS dalam kurikulum KKNI disiasati dengan menggunakan TPACK. Sebagaimana diketahui bahwa satu SKS adalah 50 menit tatap muka, 50 menit tugas mandiri dan 50 menit tugas terstruktur. Maka apabila 2 SKS, ada 10 SKS yang bisa menggunakan TPACK di luar lecture di kelas. Pemanfaatan TPACK di luar kelas akan memenuhi standar SKS dalam KKNI. Caranya? Gunakan sistem penugasana seperti reading report, chapter report, book review, mini research, research project dan semuanya harus dilakukan dengan menggunakan sistem online. Web yang didesain oleh dosen harus mengadopsi kebutuhan mahasiswa dalam belajar terutama prinsip tugas mandiri dan terstruktur.
2.  Dalam konteks penelitian, dosen bisa menggunakan TPACK dengan menggunakan sistem OJS individu atau menggunakan OJS public seperti academia.edu atau researchgate.com. Tujuan penggunaan OJS adalah untuk mempermudah indeksasi tulisan dosen dimana OJS adalah sebuah ekosistem jurnal ilmiah. OJS pribadi semacam subdomain dari web pribadi dalam web-based learning dalam pembelajaran bisa dibuat secara mudah dan cepat. Adapun OJS dengan menggunakan subdomain kampus masing-masing semisal jurnalpai.uinsby.ac.id; journal.ugm.ac.id.; journal.upi.edu.; dan seterusnya.
3.  Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, dosen bisa menggunakan TPACK sebagai alat untuk menunjukan portofolio pengabdian kepada masyarakat. Dokumen pengabdian seperti laporan pengabdian atau foto surat tugas atau dokumentasi kegiatan bisa dikumpulkan dalam TPACK dalam bentuk online. Pendek kata, semua dokumen yang dimiliki dosen dapat dikumpulkan secara sistemik di ruang online yang dibuat oleh dosen.

Untuk lembaga PT, TPACK bisa digunakan sebagai bagian dari insfrastruktur pembelajaran setiap dosen. PT tinggal membangun sistem dengan server dan kekuatan bandwitch yang bagus agar akses online mudah dan lancar. Dosen diperintahkan oleh lembaga untuk menggunakan sistem pembelejaran online kepada setiap dosen. Hal ini yang sudah dilakukan oleh UPI dengan spot.upi.edu. Setiap dosen memiliki akun sendiri dan memiliki ruang kelas online sendiri untuk melakukan pembelajaran online dengan mahasiswanya. TPACK di PT memiliki peluang yang bagus untuk diimplementasikan. Bagi dosen yang menggunakan TPACK di PT, maka mereka akan memiliki kesempatan untuk menyelesaikan tugasnya secara efektif dan efisien. Mereka menggunakan ekosistem virtual untuk kebutuhan pembelajaran kapan dan dimana saja.

Semua data tertata dan terdokumentasikan dengan rapi dengan jejak digital yang jelas. Mahasiswa pun akan merasa terbantu untuk menyelesaikan kuliah, karena mereka tidak perlu berangkat ke kampus untuk bertemu dengan dosen. Pendek kata ruang dan waktu yang dahulu menjadi masalah interaksi belajar dosen-mahasiswa, kini ditiadakan dan berdampak kepada cost kuliah yang rendah. Pembangunan OJS sebagai media publikasi karya ilmiah dari laporan penelitian atau pengabdian masyarakat akan berdampak kepada peluang ekonomi dan peluang citra yang lebih baik. Dengan menggunakan OJS dan fokus penerbitan karya ilmiah online akan menghasilkan dimensi ekonomi karena media ini bisa dijual.

Karena dosen sangat membutuhkan media publikasi sebagai kewajibannya, mereka akan membayar OJS yang dinilainya layak dan memiliki indeks yang baik. Web yang dipasang Adsense akan mampu memberikan keuntungan finansial hasil dari Biaya Per Klik (BPK) atau biaya tayang iklan di web. Apabila dosen mampu menggunakan media online miliknya atau youtube, misalnya, dengan membuat channel tentang content kuliah dan dipersilahkan mahasiswa untuk menontonnya, maka dosen akan mendapatkan uang yang besar dari akun adsense yang ia miliki.

Mungkin uang gajinya akan terlihat sangat kecil apabila dibandingkan dengan penghasilan Adsense-nya. Hal yang tidak kalah penting adalah kreatifitasnya dalam menjual data (kata atau video) dapat mendorong semua orang untuk menontonnya. Tantangan yang didapatkan dalam implementasi TPACK di Dikdasmen dan PT adalah sama. Tentang paradigma dan budaya dosen yang harus migrasi dari offline ke online; juga insfrastruktur teknologi yang harus dilengkapi. Untuk masalah lainnya bisa dipelajari secara on going process, namun dua hal tadi menjadi tantangan yang harus dituntaskan di awal implementasi TPACK.  

D.    Implementasi TPACK dalam Pembelajaran PAI

Kemajuan teknologi informasi yang sedemikian pesatnya, menuntut guru harus menguasai teknologi untuk kemudian digunakan sebagai media pendukung dalam kegiatan pembelajaran.  Beberapa contoh penerapan teknologi dalam pembelajaran adalah seperti gagasan yang ditawarkan oleh NACOL (North American Council for Online Learning), yaitu model pembelajaran campuran (blended learning).  Pada model ini pembelajaran tidak terfokus pada kegiatan tatap muka di kelas (face to face), tetapi menggunakan juga teknologi berbasis web (online learning) untuk mendukung kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan di kelas. 

Blended learning akan menjadi model pembelajaran yang cukup efektif.  Suasana yang jenuh belajar di kelas dapat diatasi dengan kegiatan belajar yang menyenangkan dan interaktif secara online.  Penggunaan teknologi yang  berbasis web ini mungkin terbilang cukup mahal, karena membutuhkan perangkat elektronik seperti komputer, laptop ataupun smart phone.  Namun teknologi yang dimaksudkan dapat juga berupa alat-alat peraga (tools) hasil pengembangan kreatifitas guru, dan tetap mengacu pada kebaruan teknologi.  Selain penggunaan teknologi sebagai media belajar, dalam kerangka kerja (framework) TPACK, pedagogi adalah aspek penting yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pembelajaran. Pedagogi bukan saja bagaimana mengembangkan seni-seni dalam mengajar,  atau mendesain kelengkapan instrumen-instrumen proses dan penilaian dalam pembelajaran, namun dituntut juga memahami siswa secara psikologis dan biologis. 

Dalam pemikiran secara pedagogis ini akhirnya ada sebuah penekanan, bahwa guru yang berhasil bukanlah guru yang hanya bisa menjadikan siswanya pintar seperti dirinya, namun lebih dari itu, guru harus berhasil membantu siswa dalam menemukan dirinya sendiri.  Minat, bakat serta karakter peserta didik harus dipahami oleh seorang guru. Konten pengetahuan (Content knowledge) pada kerangka kerja TPACK adalah elemen dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru sesuai disiplin keilmuannya.

Pada kenyataannya, di lapangan banyak guru profesional (bersertifikat) yang justru “salah masuk ruang” (mismatch),  misalnya, guru agama lulusan S1 IPS; guru Matematika lulusan S1 PAI; guru Kimia lulusan S1 Pertanian; guru Bahasa Indonesia lulusan S1 Biologi; dan sebagainya.  Untuk meningkatkan content knowledge, latar belakang pendidikan sangat penting,  selain itu guru tidak cukup hanya mengandalkan text book semata, namun perlu didukung dengan meng-update informasi terkini bidang keilmuan terkait yang dipublikasikan oleh jurnal-jurnal ilmiah bereputasi. TPACK penting untuk menjadi sebuah kerangka kerja bagi pendidik, peneliti, dalam upaya untuk mengemas dan mengembangkan model pembelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran melalui proses yang lebih baik.

Kemampuan teknologi, pedagogi, dan konten/ materi pengetahuan, memang seharusnya terkumpul dalam diri seorang guru, sebagaimana gagasan Mishra dan Koehler (2006) tentang TPACK. Namun sepertinya ada yang kurang lengkap dari gagasan tersebut, yaitu kepribadian yang santun (good personality) yang harus dimiliki seorang guru.   Kenakalan peserta didik, pergaulan bebas, hingga kasus kriminal yang dilakukan oleh peserta didik, sudah mirip deret hitung yang setiap tahunnya mengalami peningkatan dengan pesat. 

Oleh karenanya diperlukan kesadaran kolektif guru dalam mencermati masalah serius ini.  Dampak kemajuan teknologi informasi, pengaruh lingkungan tempat tinggal atau latar belakang keluarga, diyakini sebagai instrument yang paling bertanggungjawab terhadap merosotnya moral di kalangan pelajar.  Implementasi kurikulum nasional (K-13) yang telah banyak diterapkan oleh satuan pendidikan, dari tingkat SD hingga SMA, memberikan amanat yang besar dalam membentuk sikap dan karakter peserta didik untuk menjadi insan berakhlak mulia. Pembentukan sikap tidak hanya tanggungjawab guru-guru agama ataupun guruguru budi pekerti.

Nilai-nilai sikap perlu terintegrasi pada semua mata pelajaran.  Dengan demikian, semua guru memiliki tanggung jawab yang sama dalam menghasilkan outcome peserta didik yang berakhlak mulia. Profesi guru bukan profesi sembarangan, tidak sekedar bertugas mentransfer pengetahuan atau mengkonstruksi pengetahuan, tetapi ada yang lebih berat, yakni menjadikan diri seorang guru sebagai “kiblat” dalam berakhlak mulia, di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan pendidikan (sekolah).

Tambahan berupa aspek kepribadian (personality) pada kerangka kerja TPACK (technological, pedagogical and content knowledge) atau dengan istilah TPACK-P (personality), merupakan usaha sistematis–terpadu dalam melahirkan dan membentuk guru masa depan yang penuh tantangan. 

Penguasaan teknologi, ketrampilan pedagogi, kompeten dalam disiplin keilmuan, yang dibungkus dengan kepribadian yang baik (good personality), adalah profil guru yang memberi secercah harapan dalam upaya transformasi peradaban yang lebih baik. TPACK atau TPACK-P perlu diimplementasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).

Materi PAI (bersama dengan Kewarganegaraan, Pamcasila, Bahasa Indonesia) termasuk dalam kelompok Mata Pelajaran Pengembangan Kepribadian (MPK), dan dirancang penyajiannya kepada peserta didik dengan berbasis kompetensi.  Dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 43/ Dikti/ Kep/ 2006, disebutkan bahwa visi kelompok MPK di perguruan tinggi adalah rnenjadi sumber ni!ai dan pedornan dalam pengembangan dan penyelenggaraan program studi guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadiannya sebagai manusia Indonesia seutuhnva.

Adapun misi kelompok MPK adalah membantu mahasiswa memantapkan kepribadiannya agar secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar keagamaan dan kebudayaan, rasa kebangsaan dan cinta tanah air sepanjang hayat dalam menguasai, menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dimilikinya dengan rasa tanggungjawab. Sedangkan kompetensi dasar Pendidikan Agama adalah menjadi ilmuwan dan profesional yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan memiliki etos kerja, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan.  Merujuk pada Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, MK PAI merupakan mata kuliah wajib yang diselenggarakan secara mandiri di setiap perguruan tinggi dan diberikan kepada semua mahasiswa yang beragama Islam di semua jenjang dan tingkatan serta diajarkan oleh para dosen profesional yang juga beragama Islam.

MK PAI pada dasarnya tidak untuk menjadikan mahasiswa sebagai ahli di bidang agama Islam, melainkan untuk menjadikan mereka semakin taat menjalankan perintah agama dengan baik dan benar, dan berakhlak mulia.   Dengan demikian dapat dikatakan bahwa PAI memiliki kedudukan strategis dalam dunia pendidikan. Sebab setiap siswa/ mahasiswa muslim wajib mendapatkan materi ini. Akan tetapi, tugas PAI dalam membina kepribadian mahasiswa, khususnya dalam aspek membantu mahasiswa menjadi muslim yang beriman, bertaqwa, berakhlak baik, menghadapi tantangan tidak mudah.

Salah satu sebabnya adalah alokasi jam materi PAI hanya 3 sks/ 3 jam per minggu. Dalam standar nasional PAI di Perguruan Tinggi disebutkan bahwa pembelajaran PAI merupakan upaya sadar dan terencana dalam mengembangkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai ajaran Islam dari sumber utamanya secara tekstual dan kontekstual melalui kegiatan pengajaran, bimbingan, latihan, dan pengalaman yang disampaikan secara dialogis, komprehensif, dan multiperspektif.

Visi PAI adalah “menjadikan ajaran Islam sebagai sumber nilai dan pedoman yang mengantarkan mahasiswa dalam pengembangan profesi dan kepribadian Islami.” Sementara misi PAI adalah terbinanya mahasiswa yang beriman dan bertakwa, berilmu dan berakhlak mulia, serta menjadikan ajaran Islam sebagai landasan berpikir dan berperilaku dalam pengembangan keilmuan dan profesi, serta kehidupan bermasyarakat (Tim Diktis, 2010: 5). 

Untuk mencapai visi dan misi diatas, dirumuskan tujuan PAI sebagai berikut:
1.  Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan mahasiswa kepada Allah SWT,
2.  Memperkokoh karakter muslim dalam diri mahasiswa,
3.  Mengembangkan pemikiran dan akhlak yang selaras dengan keyakinan Islam dalam kehidupan,
4.  Mengantarkan mahasiswa mampu bersikap rasional dan dinamis dalam mengembangkan dan memanfaatkan IPTEKS sesuai dengan nilai-nilai Islam bagi kepentingan bangsa dan umat manusia, dan
5.  Membimbing mahasiswa untuk mengembangkan penalaran yang benar dan baik, serta berpikir kritis dalam memahami berbagai masalah aktual dan menyikapinya dengan perspektif Islam (Tim Diktis, 2010: 6-7).  

Oleh karena itu, materi ajar dalam buku-buku PAI harus berorientasi pada pengembangan sikap beragama yang moderat dan berwawasan ke-Indonesia-an pada satu sisi, dan berwawasan global pada sisi lain. Di samping itu, kurikulum baru tersebut diarahkan untuk mentransendenkan ajaran Islam menjadi nilai-nilai universal yang dapat diimplementasikan dalam konteks dunia modern. Materi ajar PAI saat ini dirancang sesuai dengan semangat kurikulum 2013 yang menghendaki keaktifan peserta didik.

Oleh karenanya pembelajaran PAI perlu diarahkan sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat melakukan proses penggalian informasi sampai dengan mengkomunikasikannya secara baik. Hal ini juga berlaku pada pengorganisasian pokok-pokok bahasan di dalam buku PAI yang sengaja disajikan dengan pendekatan aktivitas dan lebih banyak menyentuh aspek aplikasi dan implementasi serta mengajak peserta didik untuk menyikapi fenomena keberagamaan secara kritis (Syahidin, et.al, 2014: i).

Materi-materi ajar di dalam buku-buku PAI saat ini, dirancang berbasis kompetensi. Unsur kompetensi dalam buku teks PAI dirancang dengan dua tingkat kompetensi, yakni kompetensi inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi Inti diklasifikasikan menjadi empat KI: sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Empat KI ini kemudian dirinci menjadi sejumlah kompetensi dasar (KD) yang jumlahnya tergantung kedalaman dan keluasan masing-masing KI dan materi pembelajaran. Secara lebih lengkap, berikut adalah rumusan KI dan KD buku PAI untuk peserta didik (Syahidin, et.al, 2014: i).


  


Dalam buku-buku PAI berbasis K-13, disebutkan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik dilakukan berbasis kompetensi inti dan kompetensi dasar dengan menggunakan kerangka kerja saintifik, yakni: mengamati/ menelusuri konsep dan teori, menanya, mengumpulkan informasi/ data, menalar/ membangun argumentasi, dan mendeskripsikan/ mengkomunikasikan hasil penalarannya, yang dirumuskan secara adaptif sesuai dengan konteksnya (Syahidin, et.al, 2014: vi).

Pembelajaran PAI dengan pendekatan saintifik ini dikenal  dengan sintak generiknya sebagai berikut: a. Mengamati; b. Menanya; c. Mengumpulkan informasi; d. Mengasosiasi; e. Mengkomunikasikan. Dalam praktiknya, sintak umum ini dapat digunakan untuk membelajarkan satu bab dalam satu tatap muka atau lebih, tergantung pada KI, KD, dan keluasan materi.   Pendekatan tersebut dapat dikemas dalam pelbagai model pembelajaran yang secara psikologis-pedagogis memiliki karakter pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik (student active learning).

Dengan pendekatan ini, peserta didik difasilitasi untuk lebih banyak melakukan proses membangun pengetahuan (epistemological approaches) melalui transformasi pengalaman dalam berbagai model pembelajaran, antara lain: problem based learning (PBL), study kasus, kerja lapangan, debat, simulasi, belajar kolaboratif, dan lain sebagainya (Kemendiknas, t.th: 12-13).

Dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan tujuan PAI, buku teks PAI dengan pendekatan saintifik perlu diarahkan pada substansi materi sebagai berikut:
a.  Mengapa dan bagaimana mempelajari Islam di sekolah untuk mengembangkan manusia seutuhnya, dan sebagai sarjana muslim yang profesional;
b.  Bagaimana esensi dan urgensi bertuhan sebagai determinan dalam pembangunan manusia beriman dan bertakwa kepada Allah SWT yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah;
c.  Bagaimana agama Islam dapat menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat, dalam konteks kehidupan modern yang cenderung pada kehidupan materialistik dan hedonistik;
d.  Bagaimana mengintegrasikan iman, Islam dan ihsan dalam membentuk manusia seutuhnya (insan kamil);
e.  Bagaimana membangun paradigma Qurani dalam menghadapi perkembangan sains dan teknologi modern yang sangat maju;
f.  Bagaimana membumikan Islam di Indonesia agar Islam dirasakan sebagai kebutuhan hidup, bukan sebagai beban hidup dan kewajiban;
g.  Bagaimana Islam membangun persatuan dalam keberagamaan yang dinamis dan kompleks dalam kontek kehidupan sosial budaya Indonesia yang plural;
h.  Bagaimana Islam menghadapi tantangan modernisasi, untuk menunjukkan kompatibilitas Islam dengan dunia modern saat ini;
i.  Bagaimana kontribusi Islam dalam pengembangan peradaban dunia yang damai, bersahabat, dan sejahtera lahir dan batin secara bersama sama;
j.  Bagaimana peran masjid dalam membangun umat yang religius-spritualistis, sehat rohani dan jasmani, cerdas (emosional, intelektual, dan spiritual) dan sejahtera;
k.  Bagaimana implementasi Islam yang raḫmatan lil ‘alamīn, sebagai rangkuman dan evaluasi keseluruhan proses pembelajaran PAI. 

Pendekatan saintifik yang digunakan dalam kurikulum 2013, termasuk dalam buku PAI, bertolak dari asumsi bahwa pembelajaran merupakan proses ilmiah. Oleh karena itu pendekatan ilmiah “wajib” digunakan dalam pembelajaran. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuwan mengutamakan penalaran induktif (inductive reasoning) daripada penalaran deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan atau menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas (Kemendikbud, 2013: 1).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendekatan saintifik –yang saat ini jug bisa dilakukan melalu frame TPACK- sangat cocok digunakan untuk mengembangkan KI pengetahuan dan ketrampilan akademis mahasiswa, sebab ia menggunakan model berpikir induktif: dari pengetahuan khusus menuju pengetahuan umum. Persoalan yang kemudian timbul adalah banyak ajaran Islam yang diajarkan melalui PAI menggunakan model berpikir deduktif, dan bernuansa taken for granted tanpa perlu bertanya. Misalnya, nikmat surga bagi orang baik, dan sebaliknya siksa neraka bagi ahli keburukan (surat alGhasiyah: 1-16). 

Terlebih lagi terdapat ajaran Islam tentang keimanan yang bersifat gaib, seperti malaikat dan setan (surat al-Baqarah: 34), yang tidak logis dan tidak bisa dibuktikan dalam kenyataan, kecuali diyakini melalui keimanan. Dua hal ini setidaknya menjadi problem serius penggunaan pendekatan saintifik untuk semua materi PAI di sekolah. Jika pendekatan saintifik tetap dipaksakan, sangat mungkin pendidik dan peserta didik mengalami kebingungan dalam mempelajari materi-materi PAI di sekolah, dan pada akhirnya bisa menghambat tercapainya visi, misi, dan tujuan pembelajaran PAI di sekolah. 

Selain persoalan diatas, banyak keraguan muncul terkait dengan kemampuan pendekatan saintifik dalam menumbuhkembangkan sikap dan perilaku positif peserta didik. Hal ini karena pendekatan saintifik lebih menekankan pada proses penalaran logika dan data empiris. Padahal persoalan moral dan perilaku tidak hanya melibatkan aspek kognitif (moral knowing), melainkan lebih banyak berkenaan dengan aspek afektif (moral feeling). Bahkan, sejumlah tokoh dan pemerhati pendidikan Islam di Indonesia secara tegas mengkritik pengajaran agama Islam di lembaga pendidikan formal yang cenderung pada aspek kognitif, yang disinyalir menjadi salah satu sebab terjadinya kerusakan moral remaja.

Misalnya, Komaruddin Hidayat yang menyatakan bahwa pendidikan agama saat ini lebih berorientasi pada belajar tentang agama, bukan belajar beragama (Komarudin Hidayat, 1999: iv). Oleh karena itu, banyak ahli pendidikan Islam menyarankan agar pembelajaran PAI di sekolah formal dilakukan dengan menekankan pada pembinaan aspek afektif. Ditinjau dari ciri khas perguruan tinggi sebagai lembaga yang menjunjung tinggi sikap akademis dan ilmiah -yang tentu mendorong mahasiswa agar memiliki sikap dan tindakan yang logis, sistematis dan empiris sebagai ciri berpikir ilmiah-, pendekatan saintifik yang mendorong pengajaran agama Islam di tingkat perguruan tinggi bersifat kognitif mendapat justifikasi ilmiah. Muhaimin, seorang tokoh pendidikan Islam, menyatakan bahwa pendekatan pengajaran pendidikan Islam untuk tingkat perguruan tinggi seharusnya bersifat filosofis dan ilmiah (Muhaimin & Abdul Mujib, 1993: 221). 

Dalam bidang pengembangan ilmu, baik ilmu kealaman, ilmu sosial, bahkan ilmu agama, sikap ilmiah yang dicirikan dengan pola pikir logis, sistematis, dan empiris memang harus diutamakan dan dikembangkan. Namun dalam bidang norma dan moral, khususnya terkait dengan agama, pengembangan aspek afektif yang seharusnya didahulukan. Sebab agama sangat terkait dengan sikap dan pilihan hidup. Sedangkan sikap dan pilihan hidup amat dipengaruhi oleh aspek afeksi manusia. Pilihan materi dan pengorganisasian materi PAI di sekolah harus berorientasi pada pengembangan sikap beragama yang moderat dan berwawasan keindonesiaan pada satu sisi, dan berwawasan global pada sisi lain. 

Diantara upaya untuk mengatasi masalah pembelajaran PAI dengan pendekatan saintifik adalah melalui penerapan TPACK. TPACK memfasilitasi peserta didik untuk belajar secara langsung dan tidak langsung. Peserta didik tidak hanya bisa belajar melalui tatap muka, tetapi juga bisa belajar di mana saja melalui fasilitas teknologi yang memadai. Dalam rangka mengajarkan materi-materi yang gaib dalam bidang PAI, maka focus yang dipelajari bisa merujuk pada objek-objek yang dapat dikaitkan dengan keberadaan yang gaib itu. Misalnya, mengajar materi tema Tuhan (Allah), maka pendekatannya tidak langsung menghadirkan Allah secara empirik, tetapi bisa membuat analogi-analogi yang bisa dikaitkan dengan keberadaan Tuhan. 

Misalnya, bisa memakai ajaran logika Al-Kindi yang berusaha meyakinkan keberadaan Tuhan. Alam semesta ini ada, pasti ada yang menciptakan, yang menciptakan adalah Tuhan. Alam semesta ini indah, pasti ada yang membuatnya indah, yang membuatnya indah adalah Tuhan. Alam semesta ini teratur, pasti ada yang mengatur, yang megatur alam semesta adalah Tuhan. TPACK juga dapat menjadi pendekatan untuk pembelajaran PAI pada materimateri yang perlu dikonkretkan. Misalnya, ketika proses pembelajaran materi fiqih sub bab pemulasaran jenazah, maka bisa menggunakan metode demonstrasi praktik merawat jenazah, lalu dishoot dan hasilnya dijadikan media pembelajaran oleh guru dan peserta didik dengan melihat video hasil demo merawat jenazah.

SUMBER : PPG.SIAGAPENDIS.COM

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar